Cerme, Tourism and Water Cave in Bantul
(CERME, WISATA GUA DAN AIR DI BANTUL)
Bagi orang yang sudah mengunjungi Yogyakarta berulang kali, Malioboro, Keraton, Kaliurang Prambanan, Borobudur, dan Parang Tritis sudah barang tentu menjadi menu wajib selama di Yogyakarta. Seakan magnet, tempat tempat tersebut tak pernah sepi dari pengunjung, baik domestik maupun manca negara. Jika anda ingin menggunakan hari libur anda untuk refreshing, lepas dari keruwetan jalan raya dan hilir mudik kerumunan, tentu tempat-tempat tersebut bukanlah pilihan yang bijaksana. Ada satu alternatif tempat wisata alam yang sangat cocok untuk mengembalikan kesegaran mental anda. Tempat tersebut bernama Gua Cerme.
Cerme cave is located approximately 22 km south of Yogyakarta city, precisely in the hamlet Srunggo, Selopamioro village, Imogiri district, Bantul, IN. Yogyakarta. More than she, the main road toward the cave is Parangtritis road, the road to object most famous beach tourism in Yogyakarta. Kretek around the bridge, a bridge that makes the big Opak River, a branch to the left and right in the branch, there are directions with a “cave Cerme” From there, the road to the cave start up and down the contours of land in the area.
Gua cerme terletak sekitar 22 km di selatan kota Yogyakarta, tepatnya di dusun Srunggo, desa Selopamioro, kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DI. Yogyakarta. Lebih gampangnya, jalan utama menuju gua tersebut adalah jalan Parangtritis, jalan menuju obyek wisata pantai paling terkenal di Yogyakarta. Di sekitar jembatan Kretek, jembatan besar yang membelah Sungai Opak, ada sebuah belokan ke kiri dan tepat di belokan tersebut terdapat sebuah petunjuk arah bertuliskan “Goa Cerme” Dari situ, jalan menuju gua mulai naik turun mengikuti kontur tanah di daerah itu.
The cave has a physical tunnel along the 1,200 meters and needed more time 2 hours to explore the cave until the end to the other. Tunnel in the cave this work such a natural water channel and has a groove that zigzag and filled various forms of Stalactite and Stalagmite various sizes. At a depth of about 500 m from the mouth of the cave, visitors can witness a field-sized 3 X 3 meters, the cave is known as the Straits.
Secara fisik gua tersebut memiliki lorong sepanjang 1.200 meter dan diperlukan waktu 2 jam lebih untuk menyusuri gua hingga ke ujung lainnya. Lorong di dalam gua ini berfungsi semacam saluran air alami dan memiliki alur yang berkelok-kelok serta dipenuhi berbagai bentuk stalagtit dan stalagmit berbagai ukuran. Pada kedalaman sekitar 500 m dari mulut gua, pengunjung dapat menyaksikan sebuah tempat lapang berukuran 3 X 3 meter, dikenal dengan gua Paseban.
Visitors who wish to enter the cave, you should contact the liquidator to obtain key information and guidance on the correct this cave. According to the memoirs, Cerme Cave (Carame = lectures / propaganda), found the first Wali Songo in the early spread of Islam in Java. Since found, the cave is then used as a place of contemplation and consultation on a strategy preached. The first part of the cave used as the Guardians is precisely where the meeting room that has a Stalactite resembles kenthongan.
Para pengunjung yang bermaksud memasuki gua, sebaiknya menghubungi juru kunci agar memperoleh keterangan dan panduan yang benar tentang gua ini. Menurut riwayatnya, Gua Cerme (Carame = ceramah/ dakwah), ditemukan pertamakali oleh Wali Songo pada awal penyebaran agama Islam di Jawa. Sejak ditemukan, gua itu kemudian digunakan sebagai tempat tafakur dan musyawarah menyusun strategi dakwah. Bagian gua yang dulu digunakan para Wali sebagai tempat pertemuan tepatnya adalah ruangan yang memiliki stalagtit menyerupai kenthongan.
Based on the memoirs, is not surprising then when naming parts of the cave-term use of Islam. Throughout the journey through the tunnel cave, from the entrance in the hamlet Srunggo, Imogiri, visitors will see the dots by the guide as the population examined, pelungguhan / Straits, Kahyangan, grojogan Sewu, water users, gamelan, Gilang stone, building sekakap , Kingdom, stage, and the vast cave people hanging, and then to the exit door in the village Ploso, Giritirto, Panggang, Gunungkidul.
Berdasarkan riwayatnya itu, tidak mengherankan bila kemudian penamaan bagian-bagiannya goa menggunakan istilah Islam. Sepanjang perjalanan menyusuri lorong gua, mulai dari pintu masuk di dusun Srunggo, Imogiri, para pengunjung akan menjumpai titik-titik yang oleh pemandu disebut sebagai watu kaji, pelungguhan / paseban, kahyangan, grojogan sewu, air penguripan, gamelan, batu gilang, gedung sekakap, kraton, panggung, goa lawa dan watu gantung, kemudian sampai di pintu keluar di desa Ploso, Giritirto, Panggang, Gunungkidul.
One thing is sure, you will be sopping after exploring the cave in this. So try to change the clothes. If you want to enter and perform better in caving with the meaning and motivation that is more serious, or call a friend who is experienced in cave exploration. In addition, preparation and equipment needed to cook the success and satisfaction shipping your heart.
Satu hal yang pasti, anda akan basah kuyup setelah menjelajahi bagian dalam gua ini. Jadi usahakan bawa pakaian ganti. Jika anda ingin masuk lebih dalam dan melakukan caving dengan makna dan motivasi yang lebih serius, ajaklah pemandu atau teman yang berpengalaman dalam penjelajahan gua. Selain itu persiapan dan perlengkapan yang matang diperlukan untuk kesuksesan ekspedisi dan kepuasan hati anda.
If you are lucky, you can also watch a traditional ceremony called a local Merti Hamlet (Clean Village) and Jodhangan held at the Cave of the court Cerme. This traditional ceremony held every year on Sunday Pahing months of the Calendar of Java. Do this tradition inherited from generations and until now the cultural heritage is still done by the residents in the surrounding caves Cerme.
Jika anda beruntung, anda juga bisa menyaksikan sebuah upacara tradisional setempat yang bernama Merti Dusun (Bersih Desa) dan Jodhangan yang diadakan di pelataran Gua Cerme. Upacara adat tradisional ini digelar setiap tahunnya pada hari Minggu Pahing bulan besar dalam Kalender Jawa. Kabarnya tradisi ini diwariskan secara turun temurun dan hingga kini warisan budaya ini masih dilakukan oleh warga di sekitar gua cerme.




Have your say!